waktu berdetak

Privacy Perihal kami Coba Template ini
×
Skip to main content

FORMULIR KONTAK

Get in touch.

Popular Minggu ini:

Waktu Yang berdetak (bagian pertama)

BAGIAN I: KELUARGA DI DESA Dimasa penghujung masa remajaku saat masih berusia 19 tahunan, aku hidup disebuah desa yang terletak ditepi sungai gaung, sebuah desa dengan gambaran kritis; air tawar berwarna cokelat teh mengalir dari hilir ke hulu untuk menaikan pasang dan sebaliknya jika sudah sampai kehulu akan kembali mengalir kehilir dan air sungai akan menjadi surut, ketika surut nampak lumpur berwarna abu abu keputih putihan diantara tanaman bakung terapung yang kandas diatasnya, perahu perahu yasng tertambat miring dan kandas dantara batang batang yang sengaja di sorong ketengah oleh penduduk yang suka mendirikan rumah ditepiannya. Setiap rumah memiliki pelantar yang berfungsi sebagai dermaga untuk menambatkan perahu perahu mereka.
Aku melewati setiap musim, membantu orangtuaku bertani dan melintasi sungai menuju ke kebun kebun kelapa dengan mendayung atau mengayuh perahu, jika musim panas pasang surut air menjadi ekstrem, sungai seolah kering, tidak mudah melewati anak anak sunga…

Aku pernah hidup separoh hati (bagian kelima)

PADA DESEMBER YANG KELABU.
"Wardi kamu tau berita terbaru?" tanya Hartini seraya duduk disampingku diteras mess dilantai dua memandang pas dimana warung kakaknya Ros berdiri dibawahnya.

Aku menggelengkan kepala menoleh kepadanya, "berita terbaru apa ya?" tanyaku ingin tahu.

"Perhatikan warung itu tutup, kamu tidak perhatikan wajah Bayu yang muram dan tidak menyapa siapapun seperti biasanya?" tanyanya.

Aku menggelengkan kepala lagi.
"Ros hamil" katanya setengah berbisik.

Mataku terbelalak.

"Bukan sama Bayu, tapi sama abang iparnya yang suami kakaknya itu" katanya.

"satpam itu?"

Hartini mengangguk dan pergi karena dipanggil oleh kakaknya dari dalam ruangan mess. Dan aku terkejut mendengar itu. Tak berapa lama Hartini muncul lagi sambil mengenakan pakaian seragam kerja elektroniknya.

"Itu prahara," kataku kepadanya. "Lalu bagaimana selanjutnya?"
Hartini menyentuh pundakku dengan lembut, seperti biasa dia mem…

Aku pernah hidup hanya separoh hati (bagian kedua)

Kuli bangunan Bersama saudara sepupuku kami menunggu "bos" datang, jelas dia membutuhkan kami. Dia adalah pemilik pekerjaan jasa borongan membangun perumahan. Hanya sebagai pemborong yang telah diberi kepercayaan untuk mewujudkan bangunan bangunan perumahan, ruko hingga rumah pribadi.
Selanjutnya kami diberi sebuah tempat tinggal dengan bangunan kayu bertingkat 2 yang dibawahnya berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan kerja dan alat alat pertukangan. Kami disediakan kamar dilantai dua sekaligus sebagai lantai teratas bangunan itu.
Tidak terlalu kokoh tapi sudah sangat lumayan buat kami menumpang berteduh dan tidur ketimbang menjadi seperti gelendangan. Tiga hari disini aku sudah melihat gelendangan dan orang gila di beberapa pasar dan jalanan.
Hari berikutnya adalah bekerja, ya membangun satu rumah mewah. Aku jadi lebih mengerti bahan bangunan lebih daripada sebelumnya, ada batako, semen, dan keramik. Karena dikampung masih umum orang membangun rumah dari bahan kayu.
A…

Follow by Email